Sektor pertanian menggunakan 70% air yang ada di dunia. Sebanyak 60% kegiatan budidaya pertanian masih mengandalkan pengairan berbasis curah hujan, sisanya menggunakan irigasi. Ada bebeberapa jenis irigasi, salah satunya irigasi tetes. Irigasi tetes ini lebih hemat 30%-90% air dibandingkan irigasi tradisional. Namun, karena butuh tekanan untuk mengalirkan air, irigasi tetes umumnya mengonsumsi energi cukup banyak. Untuk mengefisienkan penggunaan energi, aQysta membuat pompa inovatif tenaga air tanpa bahan bakar. Yang terpenting ada air mengalir. Pompa ini memiliki keunggulan bebas polusi, efisiensi tinggi, perawatan mudah, biaya operasi nol, dan bisa bertahan hingga 20 tahun.

Segudang Apresiasi aQysta merupakan perusahaan rintisan (startup) berteknologi tinggi yang digagas 17 anggota tim muda dari 8 negara termasuk Indonesia. Para pencetus ini bervisi sama membawa teknologi irigasi tenaga air ke seluruh dunia. Perusahaan lahir di Delft University of Technology, Belanda pada 2013 itu bertujuan menyediakan solusi pemompaan tenaga air berkelanjut an yang memiliki dampak positif ter hadap ekonomi, lingkungan, dan sosial. Dengan inovasi cemerlang dan tu juan yang mulia, aQysta menyabet beberapa penghargaan bergengsi.

Seperti Philips Innovation Award 2012, Bearing Point Award 2012, DOW SISCA 2012, ClimateKIC Venture Competition Award 2014 – Europe, Siemens Empowering People Award 2016, dan Forbes 30 under 30- Social Innovation Europe-2017. Dengan sederet penghargaan itu, aQysta pun percaya diri menjajaki pasar global. Eksistensi di Indonesia Sejauh ini, aQysta sudah meluncurkan lebih dari 200 unit pompa Barsha di 12 negara. “Di Indonesia, kami sudah meng implementasikan pompa Barsha di Pulau Sum ba,” jelas Annisa Anindita, Sales & Marketing aQysta Indonesia itu.

Atas kerja sama dengan Hivos Asia Tenggara, pompa Barsha pertama kali dipasang di Waingapu, Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2015. Program ini sangat membantu kelompok tani perempuan yang di dalamnya terhimpun 20 petani wanita. Biasanya, mereka harus membawa air dari sungai yang jauh hingga ke lahan pertaniannya. “Dengan pompa Bashra, air bisa tersalur kan hingga ketinggian 10 m dengan jang kauan jarak 500 m,” papar Annisa. Seka rang petani bisa lebih ringan mengerjakan tugasnya. Ongkos pengairannya murah, tidak perlu listrik, dan tidak butuh bahan bakar sehingga tidak ada emisi sama sekali. Semua digerakkan langsung oleh aliran air sungai. Yang paling menyenangkan, petani kini bisa memanen lebih banyak dengan keuntungan tiga kali lipat lebih besar.