Anak Mudah Dirayu

pascal-edu.com – Saya seorang ibu dengan dua putri usia 9 dan 7 tahun. Akhir-akhir ini kita sering miris mendengar di media massa tentang anak dilecehkan secara seksual oleh orang dewasa (pedofil). Ironisnya, orang dewasa itu sering kali adalah orang yang dekat atau dipercaya anak. Terus terang, kejadiankejadian itu meresahkan saya, mengingat saya juga bekerja, tidak bisa setiap saat berada di dekat anak-anak. Adakah ciri-ciri orang yang perlu kita curigai suka kepada anakanak secara seksual?

Lalu bagaimana kita menerangkan kepada anak, bahwa tidak semua orang dewasa di sekitar mereka itu baik? Bagaimana memberi bekal kepada mereka agar bisa menangkal pelecehan, terutama pelecehan seksual? Terima kasih. Tak dapat dimungkiri, surat yang dilayangkan oleh Mama Inez Erlita dari Jakarta kepada pengasuh rubrik “Tanya Jawab Psikologi” nakita ini, sesungguhnya mewakili kecemasan kita semua, para orangtua. Betapa tidak? Coba saja Mama Papa simak berita-berita di media massa, baik cetak maupun audio dan audio-visual.

Bahkan, guru dan orangtua kandung yang notabene harusnya melindungi anak juga menjadi predator seks pada anak. Sungguh ironis! Mirisnya lagi, anak-anak pun “ikut-ikutan” menjadi sang “pelaku”. Seorang siswa kelas 4 SD di kecamatan Medan Baru, Sumatera Utara memaksa teman sekolahnya anak perempuan masuk ke kamar mandi, lalu menelanjanginya dan menyentuh alat kelaminnya dengan alat-alat tertentu seperti sikat kamar mandi. Sementara di Manado, anak laki-laki yang baru berusia 11 tahun memaksa anak perempuan 7 tahun mengisap penisnya. Masih banyak lagi kasus lainnya yang senada itu. Duh!

PENDIDIKAN SEKS

Tentu, banyak faktor yang membuat anak menjadi korban atau bahkan “pelaku” kejahatan seks. Namun, tak perlulah mencari siapa yang salah, karena sesungguhnya ini masalah kita bersama. Yang lebih penting adalah bagaimana mencegahnya agar hal tersebut tak dialami anak. Apalagi, saat ini informasi yang terkait dengan seks begitu banyak. Film di teve, Itu yang terdeteksi. Bagaimana jika anak diam-diam mengakses situs porno dari gadget-nya di dalam kamar?

Wah! Pastilah akan timbul banyak sekali pertanyaan pada diri anak yang membutuhkan jawaban tepat. Bahkan, tak sedikit anak yang ingin meniru adegan tersebut, lalu mempraktikkannya ke teman sebayanya, seperti dilakukan anak-anak SD pada kasus di atas. Itulah mengapa, pendidikan seks yang tepat dan lengkap wajib diberikan ke anak.

ANAK BERTANYA, MAMA BINGUNG

Sayangnya, kebanyakan orang – tua tak siap menjawab per tanya an seputar seks. Jangan kan untuk menjawab, mendengar anaknya bertanya tentang seks saja, si orangtua sudah terkaget-kaget. Wajarlah kalau kemudian orangtua pun bingung atau malah jadi panik lantaran tak tahu harus menjawab apa. “Waktu itu kami nonton film remaja di teve. Pas adegan orangtua si remaja bermesraan di ranjang, anak saya tanya, ‘Itu papa mamanya kenapa berantem, Ma?’ Kaget juga dan bingung mau jawab apa,” tutur Diana Gisella, mama seorang putri berusia 4 tahun.

Begitu pun Yuliana Khouw, tak menyangka sama sekali kalau Lauryn, buah hatinya yang berusia 3,1 tahun dan memiliki seorang adik lakilaki, akan mengajukan pertanyaan ini, “Mama… Dedek Nick, kok pipisnya berdiri dan ada burungnya? Lauryn kok nggak ada, Ma? Kenapa Lauryn pipisnya jongkok?” Sementara buah hati Ni Luh Sumartini dan Lina Ayu Kusumah yang sudah masuk usia sekolah mulai bertanyatanya tentang haid dan mimpi basah. “Dengan bahasa sederhana aku jelasin supaya dia mengerti karena umurnya baru 8 tahun,” ujar Lina.

Tak demikian dengan Sumartini, “Saya hanya menjawab, itu dialami saat Kakak mulai masuk masa dewasa. Akan lebih jelas pada saatnya nanti, sekarang belum saatnya.” Rianti justru tertawa geli saat anak laki-lakinya yang berusia 7 tahun bertanya tentang adik perempuannya yang tak memiliki penis. “Dia bilang, Adek sudah disunat ya, kok burung Adek sudah tidak ada?” paparnya.