Anak Mudah Dirayu Bagian 2

BUKAN HAL TABU, KOK!

Umumnya orangtua menganggap, pertanyaan yang diajukan anak terlalu dewasa sehingga sulit menjelaskannya dengan bahasa yang baku, akan terkesan “porno” jika menjawab dengan jujur. Maklumlah, kendati zaman sudah berubah, masih banyak orangtua yang menganggap tabu bicara soal seks pada anak. Padahal, anak sangat membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang diajukannya.

Jikapun orangtua menjawab, tak jarang modelnya seperti jawaban yang diberikan oleh Mama Sumartini. Jelas, anak tak akan puas! Kalau sudah begini, anak akan bingung dengan informasi yang ia dapatkan. Bukan tidak mungkin, ia pun urung untuk bertanya lagi ataupun berdiskusi. Yang lebih mengkhawatirkan, anak akan mencari tahu jawabannya sendiri, bereksperimen sendiri, mengakses situs-situs dewasa, dan karena ketidaktahuannya, mungkin saja anak mudah dibujuk oleh predator seks.

Ya, anak-anak yang menjadi korban kejahatan seksual, umumnya tidak dibekali pendidikan seksual yang baik sehingga mereka mudah masuk perangkapnya. Sebaiknya, jangan lagi meng anggap tabu berbicara tentang seks kepada anak. Buang anggapan kalau berbicara tentang seks seolah-olah kita mengenalkan anak pada cara berhubung an seksual. Berbicara tentang seks kepada anak bertujuan agar anak memahami dengan benar apa yang harus ia lakukan terhadap organ seksualnya.

Ketahuilah, kata “seks” sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hal yang berhubungan dengan alat kelamin. Berarti bisa jenis kelamin, cara pipis yang berbeda, kesehatan kelamin, kebersihan kelamin, keamanan kelamin, jadi bukan sematamata berhubungan seks. Yang terpenting lagi, dengan kita membekali pendidikan seks, besar kemungkinan anak bisa terhindar dari tindak an pelecehan seks.