Pati Kawasan Nila Salin Nasional

Nila salah satu komoditas unggulan ekspor perikanan selain udang dan rumput laut. BPS mencatat, ekspor nila In – donesia mencapai 9.179 ton dengan nilai US$57,43juta pada 2017. Karena itu, Ke – men terian Kelautan dan Perikanan (KKP) ber encana menetapkan Kab. Pati, Jateng sebagai Kawasan Nila Salin Berkelanjutan Nasional. Pemilihan ini, ungkap Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya, karena Pati me rupakan sentra terbesar budidaya nila sa lin dan baru yang pertama ada di Indo – nesia. “Dari aspek bisnis, pangsa pasarnya sangat terbuka lebar baik untuk domestik maupun ekspor. Apalagi, tekstur daging nila salin sangat disukai di kalangan ma – sya rakat,” ujarnya. Klasterisasi berbasis komoditas unggul an, seperti nila Salin akan lebih efektif un tuk mempercepat pergerakan ekonomi dae rah.

Apalagi kawasan ini awalnya tumbuh atas inisiatif masyarakat secara man diri. Se – mentara, permasalahan budidaya di perairan umum memicu rasionalisasi ka pasitas keramba jaring apung di Danau Toba, Sumut serta Waduk Jatiluhur dan Cirata, Jabar sehingga akan berimbas pa da penurunan produksi nila. Suplai nila pun sangat bergantung pada pengembangan budidaya di tambak seperti yang ada di Pati. “Dengan padat tebar 30 ribu ekor/ha, ra – ta-rata kami menghasilkan produksi hingga 4 ton/ha. Jika harga rata rata saat ini Rp24 ribu/kg, keuntungan yang dapat diraup kisaran Rp15 juta-Rp16 juta/siklus (3,5 bulan),” jelasnya