Produksi jakao juga berpeluang tertekan. Masa panen yang tertunda akibat cuaca kering, lahan je – nuh, dan kebakaran hutan beberapa waktu lalu ju – ga merambat ke lahan kebun kakao. Terakhir karet diprediksi tidak terganggu produksinya, tetapi sangat terpuruk harganya karena permintaan dunia menurun. Sekitar 60% – 70% ka – ret alam itu digunakan untuk industri ban. Saat eko nomi melemah, industri otomotif juga mele – mah sehingga terjadi kelebihan produksi. Dari sisi pergerakan harga sepanjang 2016 di – prediksi harga komoditas perkebunan, yaitu kelapa sawit (CPO), karet, dan gula berada pada taraf yang rendah. Sementara harga yang berada pada taraf cukup tinggi terjadi pada kakao, kopi, dan teh. Menyikapi prospek kurang cerah tersebut, ada sejumlah alternatif strategi bisa dilakukan.

Pertama, peningkatan produktivitas dengan menerapkan berbagai inovasi teknologi. Kedua, perbaikan mutu dan diversifikasi produk setengah jadi. Merespon isu keberlanjutan komoditas untuk meningkatkan daya saing. Keempat, pengembangan produk industri hilir untuk meningkatkan permintaan pasar domestik. Selain itu, khusus untuk karet, sawit, dan gula perlu dilakukan tambahan tindakan. Pertama, melaku – kan efisiensi dalam pembiayaan operasional. Kedua, diversifikasi usaha (termasuk pengembangan produk sampingan seperti bioetanol untuk tebu) dan melakukan tumpang sari dengan komoditas pertani – an lainnya atau ternak. Pada tataran kebijakan, perlu implementasi yang nyata. Pertama, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit terus menarik dana sekaligus menya – lur kannya untuk kegiatan peremajaan kebun sawit rakyat dan subsidi biodiesel.

Perlu diusulkan pembentukan lembaga serupa untuk komoditas perkebunan lainnya. Kedua, implementasi kebijakan subsidi sarana produksi perkebunan, misalnya pupuk bersubsidi untuk perkebunan rakyat. Ketiga, implementasi subsidi bunga kredit dengan penjaminan melalui Kredit Usaha Rakyat. Keempat, implementasi kebijakan produksi bahan baku bermutu baik, seperti SNI Bo – kar Nomor 06-2047-2002 tentang bokar/karet bersih sesuai SNI. Kelima, menjalin kerjasama perdagang – an dengan negara-negara produsen karet. Selain itu perlu juga didukung sejumlah kebijakan hilirisasi, seperti implementasi SKB 3/5 menteri dan tindak lanjutnya dengan Inpres untuk menyerap ka – ret domestik. Ke depan pasar dalam negeri juga ha – rus dibuka untuk industri non-ban. Lalu diupayakan diterapkan kembali kebijakan PPn 0% bagi eksportir/pabrik pengolahan dan pedagang komoditas perkebunan dengan menerapkan kembali UU nomor 42/2009 melalui usul banding terhadap putusan Mahkamah Agung. Kemudian diusulkan mengenai kebijkan peningkatan bea masuk komoditas teh.